<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>catatan ringan seorang ayah yang nakal</title>
	<atom:link href="http://yummiepappie.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://yummiepappie.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 25 Jan 2012 09:50:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='yummiepappie.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>catatan ringan seorang ayah yang nakal</title>
		<link>http://yummiepappie.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://yummiepappie.wordpress.com/osd.xml" title="catatan ringan seorang ayah yang nakal" />
	<atom:link rel='hub' href='http://yummiepappie.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>discipline</title>
		<link>http://yummiepappie.wordpress.com/2009/10/08/discipline/</link>
		<comments>http://yummiepappie.wordpress.com/2009/10/08/discipline/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 04:27:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bubba</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yummiepappie.wordpress.com/?p=125</guid>
		<description><![CDATA[Gue tertarik sama sebuah statement yang muncul dari seorang rektor universitas terbaik di negri ini. &#8220;Pendidikan di Indonesia perlu menerapkan dasar dasar kedisiplinan bagi generasi muda. Pintar tapi tidak disiplin akan berbahaya bagi bangsa&#8221; hm, mungkin beliau tidak merefer pada para personil Slank yang punya banyak kontribusi bagi negeri ini. mungkin beliau merujuk pada segelintir [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yummiepappie.wordpress.com&amp;blog=3095891&amp;post=125&amp;subd=yummiepappie&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Gue tertarik sama sebuah statement yang muncul dari seorang rektor universitas terbaik di negri ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>&#8220;Pendidikan di Indonesia perlu menerapkan dasar dasar kedisiplinan bagi generasi muda. Pintar tapi tidak disiplin akan berbahaya bagi bangsa&#8221;</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">hm, mungkin beliau tidak merefer pada para personil Slank yang punya banyak kontribusi bagi negeri ini. mungkin beliau merujuk pada segelintir teroris dari Indonesia yang pintar-pintar, tapi punya pemikiran yang nyeleneh nggak karuan. atau oknum oknum militer yang justru lebih berbahaya daripada para kriminal yang mendekam di penjara penjara polsek tanah air.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-125"></span>kalo kata wiki, kata &#8220;discipline&#8221; itu berarti &#8220;systematic instruction given to a disciple/follower&#8221;. nurut! nggak nambeng/keras kepala. kita boleh menyuarakan kata hati, boleh saja berbeda pendapat, boleh mbeling. tapi tetap harus menurut sama order-order yang menjadi porsi kita. kenapa? karena itulah yang membedakan kita dengan orang-orang yang failure. gagal. sampah masyarakat. the time you breach an order, thats the time you become a scum.</p>
<p style="text-align:justify;">alm Papi mewariskan dua nasehat ke gue. mungkin ke sodara gue yang lain beliau mewariskan banyak sekali life guidance, tapi ke gue -<em>sejauh yang gue inget</em>- selama 32 tahun irisan waktu diantara kami berdua, beliau hanya memberikan dua nasehat yang gue tetep jalanin sampai detik ini, until the day I die;</p>
<ul>
<li>
<div style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">bekerjalah sebaik baiknya.<br />
</span>maksud beliau adalah bekerjalah dengan disiplin. ketekunan dan kedisiplinan adalah kunci dasar beliau melaju ke jenjang tertinggi diorganisasinya. bukan pintar, bukan hasil lobby, bukan karena harta. justru sebaliknya- kepintaran, pangkat, jabatan dan harta akan datang mengikuti hasil tekun dan disiplin. pun demikian dengan integritas, dan gangguan terhadap integritas tentunya. in the end of the day, ketika seorang raja ingin mencari orang untuk posisi perdana menteri, bukan lagi skill para kandidat yang dipertimbangkan. namun core competency dan prestasi yang telah dihasilkannya.</div>
</li>
</ul>
<ul>
<li>
<div style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">jangan pernah mencari-cari alasan pembenar.<br />
</span>di lain kesempatan Papi pernah menasehati (tentunya gue refleks menutup kuping donk!) ketika kita menerjang batas kedisiplinan, breaching the code of conduct, adalah mudah bagi kita untuk mencari-cari alasan pembenar. tapi yang membedakan antara sukses dan gagal adalah kesuksesan mengambil jalan yang lebih sulit: mengakui bahwa perbuatan kita salah, dan belajar dari kesalahan tersebut.</div>
</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">kita bisa saja bekerja untuk bangsa, atau bekerja buat orang lain, atau bekerja sendiri. tetaplah disiplin dibutuhkan buat hidup kita. ada sih yang lebay kayak tentara, atau yang rada cuek kayak gaya rocker. tapi tetap tanpa kedisiplinan, objective yang kita tentukan akan terasa lebih jauh daripada sesungguhnya.</p>
<p style="text-align:justify;">gue baru aja mendapatkan indisciplinary action dari organisasi gw. dan gue sedang belajar dari kesalahan.</p>
<p style="text-align:justify;">wassalam.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yummiepappie.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yummiepappie.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yummiepappie.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yummiepappie.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yummiepappie.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yummiepappie.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yummiepappie.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yummiepappie.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yummiepappie.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yummiepappie.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yummiepappie.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yummiepappie.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yummiepappie.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yummiepappie.wordpress.com/125/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yummiepappie.wordpress.com&amp;blog=3095891&amp;post=125&amp;subd=yummiepappie&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yummiepappie.wordpress.com/2009/10/08/discipline/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/36b8842ba98ffe3010d5f7d803547352?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bubba</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>sweet child of mine</title>
		<link>http://yummiepappie.wordpress.com/2008/11/05/sweet-child-of-mine/</link>
		<comments>http://yummiepappie.wordpress.com/2008/11/05/sweet-child-of-mine/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Nov 2008 10:52:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bubba</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yummiepappie.wordpress.com/?p=119</guid>
		<description><![CDATA[lagi di bali kemaren gue sempet jalan jalan ke kuta, jalan jalan doang karena lagi ga ada duit. para bos-bos termasuk si boss-nan-cantik-jelita pada sibuk belanja sana belanja sini. gue nongkrong aja di pinggir jalan. kepengennya sih nongkrong didalem mobil aja, sambil ngadem. tapi males ditanya tanya sama supirnya. I found out that di kuta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yummiepappie.wordpress.com&amp;blog=3095891&amp;post=119&amp;subd=yummiepappie&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">lagi di bali kemaren gue sempet jalan jalan ke kuta, jalan jalan doang karena lagi ga ada duit. para bos-bos termasuk si boss-nan-cantik-jelita pada sibuk belanja sana belanja sini. gue nongkrong aja di pinggir jalan. kepengennya sih nongkrong didalem mobil aja, sambil ngadem. tapi males ditanya tanya sama supirnya. <span id="more-119"></span>I found out that di kuta itu enak loh duduk duduk bengong di pinggir jalan. kalo di jakarta kan yang lewat itu itu aja, kalo disini macem macem. banyak variasinya. ada yang bule, ada yang jepang, ada yang pake s class, ada yang pake jip open top. ada yang berjilbab, ada yang gondal gandul. seru.</p>
<p style="text-align:justify;">di bali, orang pantang mengemis. kecuali di daerah danau batur, mungkin karena adat juga, balinese people lebih memilih bekerja apapun pekerjaannya untuk mencari uang. tidak mengemis, tidak mencopet, apalagi menodong. seorang anak perempuan kecil menghampirin gue nawarin gelang, entah bikinannya entah nemu dimana.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;om beli gelangnya om&#8230;&#8221;<br />
&#8220;berapa?&#8221;<br />
&#8220;lima ribu om&#8230; &#8220;</p>
<p style="text-align:justify;">gue ambil duit di dompet gue kasihin tanpa mengambil gelangnya. gue liat, anak kecil itu manis sekali. rambutnya pirang, kulitnya well tanned tapi terlihat putih, giginya tersusun manis, defenitely ini anak bule walau logatnya kental balinese sekali. gue tidak punya skrinsyut disini, karena satu gue gak punya kamera digital ataupun handphone berkamera, dan dua gue gak suka upload foto foto gue ke blog.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;kamu bule ya?&#8221;, gue tanya.<br />
&#8220;bukan.. &#8220;</p>
<p style="text-align:justify;">anak itu namanya ayu, kelas dua esde. ayahnya bule, dia tidak tahu atau tidak mau tahu bule dari mana. gue juga males nanyain bule mana, yang pasti dia ngga disini. beberapa bulan sekali sih tetap mengirimi uang, tapi ayu sudah tidak lagi bertemu ayahnya for such a long long time. ibunya seorang waitress bar. bayangan gue sih typical cewek banjar kuta yang lekat dengan hedonism, tapi lets not judging her lah. ndak bae menuduh nuduh.</p>
<p style="text-align:justify;">ayu selalu nongkrong disini kalau malam. bersama tetangga tetangganya tentunya. ada kak eka dan kak marini, dua pekerja pijat refleksi temannya pergi pulang ke rumah. dia bilang engga tiap malam bisa ketemu sama ibunya, terkadang dia cukup terjaga untuk bisa bertemu ibunya. tapi hampir setiap pagi mereka bertemu. ayu lebih banyak bertemu dengan lingkungan teman teman dan tetangga kampungnya. disekolah, pulang sekolah, dibanjar, sampe ditempat &#8216;jualan&#8217;. pokoknya dimana mana. ayu sudah tidak lagi mengerti konsep keluarga. her life is all about people who are closed to her.</p>
<p style="text-align:justify;">the worst part is, karena physical appearance-nya dia semua orang disini pasti menganggapnya &#8216;bule&#8217;. she&#8217;s part of us but she&#8217;s not part of us. kalo di pelem tokyo drift, ayu pasti sudah dicap &#8216;gaijin&#8217;. terbukti beberapa saat kemudian ketika ayu menawarkan gelangnya ke pengemudi jazz hitam berpelat DK dia mendapat pertanyaan yang sama seperti diatas, &#8220;kamu bule ya?&#8221;. mungkin dari lahir dia sudah mendapat pertanyaan yang sama. dan diapun sudah terlatih benar untuk menjawab singkat pendek, &#8220;bukan..&#8221;. she has to live with it for the rest of her life.</p>
<p style="text-align:justify;">drama?</p>
<p style="text-align:justify;">tidak. gue punya keyakinan kalau suatu saat nanti ayu akan berbahagia. bagaimana tidak? I have to admit anak kecil ini beneran cantik. darah campuran gitu gimana sih? dia dapet DNA yang bagus bagus dari bapaknya, juga dari ibunya. kalau besar nanti dia pasti jadi model. selain itu ayu juga supel sekali. jarang ada orang (atau anak kecil) yang bisa ngobrol panjang sama gue, well.. that introvert thing I&#8217;ve been proud of. ayu pun tinggal di bali, the island of gods, semua orang happy disini. bali happy. the world&#8217;s giant theme park, alive.</p>
<p style="text-align:justify;">as for Bunga, I suddenly remembered. I love her so much, her parents love her so much. no doubt. we always want to show her how deeply she&#8217;s being loved. Bunga selalu tidur bersama orang tuanya setiap malam. apapun yang dia minta, selalu keturutan. apa lagi yang kurang?</p>
<p style="text-align:justify;">satu hal. gue engga bisa memastikan masa depan Bunga. bahkan untuk masuk sekolah tahun depan pun masih belum pasti. apalagi bisa menyekolahkannya sampai perguruan tinggi?</p>
<p style="text-align:justify;">kenapa gue bisa yakin dengan Ayu tapi tidak dengan Bunga?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yummiepappie.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yummiepappie.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yummiepappie.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yummiepappie.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yummiepappie.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yummiepappie.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yummiepappie.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yummiepappie.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yummiepappie.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yummiepappie.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yummiepappie.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yummiepappie.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yummiepappie.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yummiepappie.wordpress.com/119/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yummiepappie.wordpress.com&amp;blog=3095891&amp;post=119&amp;subd=yummiepappie&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yummiepappie.wordpress.com/2008/11/05/sweet-child-of-mine/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/36b8842ba98ffe3010d5f7d803547352?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bubba</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Selamat Jalan, Papi&#8230;</title>
		<link>http://yummiepappie.wordpress.com/2008/08/29/selamat-jalan-papi/</link>
		<comments>http://yummiepappie.wordpress.com/2008/08/29/selamat-jalan-papi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Aug 2008 13:07:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bubba</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yummiepappie.wordpress.com/?p=93</guid>
		<description><![CDATA[Orang bilang empat puluh hari sebelum sakratul maut datang, seseorang akan memberikan signs kepada teman dan kerabatnya secara tidak disengaja. Wafatnya Papi hari Jumat tanggal 22 Agustus kemarin menjadi berita yang mengejutkan bagi semua orang yang mengenal Papi, bahkan bagi anak-anaknya. Namun benarkah empat puluh hari sebelumnya Papi sudah memberikan pertanda bagi kami semua? Gue [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yummiepappie.wordpress.com&amp;blog=3095891&amp;post=93&amp;subd=yummiepappie&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://yummiepappie.files.wordpress.com/2008/10/wdylsyf.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-111" title="papi" src="http://yummiepappie.files.wordpress.com/2008/10/wdylsyf.jpg?w=460" alt=""   /></a>Orang bilang empat puluh hari sebelum sakratul maut datang, seseorang akan memberikan signs kepada teman dan kerabatnya secara tidak disengaja. <a href="http://yummiepappie.blogspot.com/2008/08/berita-dari-jauh.html" target="_blank">Wafatnya Papi hari Jumat tanggal 22 Agustus </a>kemarin menjadi berita yang mengejutkan bagi semua orang yang mengenal Papi, bahkan bagi anak-anaknya. Namun benarkah empat puluh hari sebelumnya Papi sudah memberikan pertanda bagi kami semua? Gue mencoba menulis kronologis kejadian-kejadian sejak tanggal 13 Juli yang lalu hingga dimakamkannya Papi di Malang tanggal 23 Agustus kemarin, semata mata hanya untuk mengenang kepergian Papi.</p>
<p><span id="more-93"></span><br />
<strong>Kamis, 17 Juli</strong><br />
Sebelumnya gue begitu ingin visit ke event gue di Denpasar karena satu dan lain hal. selain gue perlu ke Joger buat beli baju tidur baru, gue juga rada khawatir sama kualitas pekerjaan local team gue disana. Dalam board of meeting gue masukin nama gue di Denpasar bareng sama Pekanbaru dan Banjarmasin. Namun entah kenapa, yang keluar malah Banjarmasin dan Surabaya. Hm, sekalian lah gue pikir gue bisa nengok Papi disana.</p>
<p><strong>Rabu 23 Juli</strong><br />
Setelah menjalani siksaan delay yang panjang karena meletusnya roda pesawat Garuda di Banjarmasin gue mendarat juga di Surabaya. Walaupun gue udah bilang gw akan pake taksi ke rumah, Papi ngotot datang menjemput. Di Bandara gue ketemu Papi, setelah lama sekali tidak bertemu, gue bilang: &#8220;Papi kok kurus banget sih? Gulanya naik lagi?&#8221;. Dia hanya membalas senyum, &#8220;masa sih? engga koq&#8221;. Gue inget betul waktu itu, Papi kurus sekali. Dibalik ramah wajahnya karena senang bertemu anaknya, postur badannya terlihat kuyu walau tertutup sama senyum ompongnya.</p>
<p>Dirumah, gue ngga boleh tidur di kamar gue, Papi mau gue tidur sama Mami dan dia di kamarnya. hm, karena gue liat kamar gue di Surabaya udah lama sekali gak dibersihin, banyak debu dimana mana akhirnya gue iya-in aja. sekarang setelah gue inget-inget, Papi engga pernah sekali kalinya ngajak gue bobo bareng, mungkin terakhir kita bobo bareng waktu gue masih SD. Sebelumnya Papi menyemprot kamar dengan obat nyamuk padahal sebelumnya sudah disemprot Mami. waktu itu gue jadi geli sendiri, sepertinya indera penciuman Papi sudah rusak ya? masa ngga bisa mencium bau obat nyamuk sih? alhasil sampai pagi kita semua tidur bau obat nyamuk semprot <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Sebenarnya dari Jakarta gue udah pengen nraktir Papi makan steak doyanannya di Hotel Elmi. Papi tuh rajin sekali makan diluar, hobinya wisata kuliner. tapi selama gue di Surabaya doi engga pernah mau gue ajak makan diluar. maunya makan dirumah aja. rada sedih juga sih gue, koq gitu ya? takutnya doi tersinggung atau gimana gitu.</p>
<p><strong>Sabtu, 26 Juli</strong><br />
Empat hari gue sibuk dengan pekerjaan berkeliling Jawa Timur, gue balik ke Jakarta. Papi nganterin lagi ke bandara, disana dia nitip kerdus terbungkus rapih sekali. &#8220;lho, dari siapa Pap?&#8221;, gue bingung. ternyata selama gue kerja dia jalan jalan ke Sidoarjo buat beli kerupuk mentah, dibungkus sendiri rapi, buat anak anaknya di Jakarta.</p>
<p><strong>Kamis, 7 Agustus</strong><br />
Papi datang ke Jakarta, kami sedang ada hajatan besar. Kakak akan segera menikah dengan pria idamannya. malam sebelum pernikahan, kami sekeluarga besar berkumpul dirumah. biasanya kalau udah begini Pakdhe sebagai yang dituakan akan memimpin doa. tapi malam ini entah bagaimana caranya malah Adik yang membaca doa. setelah selesai, Papi nyelonong memimpin do&#8217;a. Kami anak anaknya cekikikan sendiri karena seumur umur Papi engga pernah memimpin do&#8217;a. jadinya ya gitu lah, hewes hewes gak kendengeran apa apa&#8230; tapi ternyata itu doa terakhir Papi untuk kami.</p>
<p><strong>Jumat, 8 Agustus<br />
</strong>Setelah selesai resepsi, Papi menyuruh kami semua anak anak dan keponakan keponanannya untuk berkumpul dirumah. Mami menyediakan nasi rawon bikinannya sendiri untuk kita semua. Gue udah males aja sih sebenernya. Secara tenaga udah terkuras abis gitu loh, Bunga pun udah rewel rewel bombay. Pas gue dateng ke rumah, ternyata ngga cuma kita. segala macem pakdhe budhe oom tante keponakan cucu-cucu disuruh datang semua. pokoknya seluruh Acaranya jadi serba gak jelas, pokonya makan makan aja (padahal kita semua kekenyangan abis makan di resepsi). Papi nge-lead acara malam itu. Gue inget pakaiannya keren betul malem itu, jas wali nikahnya dilepas dan looks so casual. It turns out, ternyata Papi pamitan sama kita semuanya di Jakarta.</p>
<p>Malam itu kami anak anaknya bertanya sama Papi, dia mau berlebaran dimana. Soalnya kita anak anaknya kan harus mempersiapkan tiket, hotel dan mobil sewaan jauh jauh hari. Dia tidak bisa menjawab dengan pasti. Antara di Jakarta atau di Surabaya. benar benar tidak ada jawaban dari dia. akhirnya gue gemes, gue tanya untuk terakhir kalinya. sebenernya Papi pengen lebaran dimana sih? Dia menjawab, &#8221; ya wes, Papi maunya lebaran di Malang&#8221;. Oh, kalau gitu ya udah, gue bisa nyiapin tiket kesana kan? ternyata memang benar sekarang Papi dimakamkan di Malang&#8230;</p>
<p><strong>Sabtu, 9 Agustus</strong><br />
Setelah dibujuk rayu, akhirnya Papi mau juga jalan jalan keluar. Kami mengajaknya ke Taman Puring, his favorite market <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  tapi disana dia tidak bersemangat, malah duduk duduk aja jajan es cingcau dan buat lontar di depan pagar. lho? biasanya dia demen banget berburu barang barang aneh, tampur gitu loh&#8230; disinilah Papi jalan jalan terakhir kalinya lengkap sama anak-cucunya.</p>
<p><strong>Minggu, 10 Agustus<br />
</strong>Ngga ada hujan gak ada petir siang siang Papi ngajak dateng ke Mertua gue, alesannya mau pamitan karena akan pulang ke Surabaya dan mengucapkan terima kasih atas supportnya buat pesta pernikahan kakak. walah, mengganggu jadwal tidur siang gue aja. Gw ajak Bunga &amp; Bini sekalian. Disana mereka berbincang lepas, tertawa tawa. orang orang sepuh itu memang aneh. begitu aja tertawa. ada satu joke yang gue denger disana, &#8220;kita kita ini beda sama anak muda, kalau mereka masih pada ngomongin masa depan, sementara kita ini sudah di masa depan. udah ngga ada depannya lagi&#8221;, cetusnya.</p>
<p>Malamnya Papi minta dianterin ke pesta pernikahan relasinya di Dharmawangsa. Gue anter sama Bini sama Bunga. Mami udah engga mau lagi dateng ke resepsi sendirian, soalnya Papi kalo nyetir suka nyasar <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Pas disana, yak ampun, resepsinya mewah sekali. Gue belom pernah liat resepsi di Dharmawangsa semewah ini. Seorang Eselon 1 berbesanan dengan Notaris senior di Jakarta Selatan. Bunga senang sekali jalan jalan sama Kakeknya, habis berporsi porsi es krim dia disana. hm, aku lihat baru kali itu Bunga begitu akrab sama Kakeknya, biasanya Mami yang lebih dekat sama Bunga. Sekarang gue baru berpikir, dengan duit yang sangat pas pasan, Papi ingin mengajak cucu perempuan satu satunya makan enak dengan mengajaknya ke resepsi&#8230; terakhir kali.</p>
<p><strong>Senin, 11 Agustus</strong><br />
Papi ngga jadi pulang ke Surabaya karena siang siang dapet kabar bahwa keponakannya meninggal dunia di Jakarta. Entah kenapa gue ngerasa euphoria, seneng banget karena masih bisa ketemu Papi lagi setelah pulang kantor. Malam itu kita ngelayat bersama sama ke rumah duka. Disana gue tanya, Papi mau pulang kapan, dia ngotot ingin pulang secepatnya.</p>
<p>Disini gue berpisah sama Papi untuk terakhir kalinya&#8230;</p>
<p><strong>Selasa, 12 Agustus</strong><br />
Papi ngga dapet tiket pesawat, gw bilang nanti aja pulangnya weekend. keukeuh Papi ngotot pulang, akhirnya naik kereta malam. alesannya satu: rumahnya ga ada yang jaga, padahal ada pembantu lho. entah apa yang membuat Papi ingin cepat pulang. bahkan ngga mau menunggu satu malam lagi di Jakarta. Sementara Mami gak boleh pulang, musti stay dulu di Jakarta.</p>
<p><strong>Kamis, 14 Agustus</strong><br />
Mami bingung, Papi kirim sms isinya barusan mengirim semua pembantunya ke Jakarta pake kereta api. Lho? buat apa? kata Papi waktu itu untuk bantuin pindahan kantor kakak. Disini Mami mulai merasa ada yang tidak beres, kenapa Papi ingin sendirian saja di Surabaya, ngga mau ada orang lain.</p>
<p><strong>Minggu, 17 Agustus<br />
</strong>Mami &amp; semua anak anaknya bantuin kakak pindahan kantor. Papi telepon, &#8220;tumpengannya sabtu aja ya&#8221;. kami semua merujuk pada tumpeng syukuran kantor baru kakak. ternyata bukan&#8230;</p>
<p><strong>Rabu, 20 Agustus<br />
</strong>Kakak ipar Papi meninggal dunia di Surabaya. Jadi baru beberapa hari mengantar keponakannya ke makam, hari itu mengantar kakaknya ke makam juga. lengkap beserta seluruh keluarga besar kerajaan &#8216;Papi&#8217; di Surabaya. disana Papi becanda terus sama saudara-saudaranya. renyah dan riang. sepertinya, tidak ada satupun saudara Papi yang luput dipamiti olehnya dalam minggu minggu terakhir ini&#8230;</p>
<p>Selesai dari makam, Papi sampai rumah jam 7 malam. kemudian langsung mencuci mobil sendiri sampai jam 9 malam. baru teringat kalau belum makan, sementara nasi dirumah habis. dia bikin nasi dulu, akhirnya tengah malam baru bisa makan.</p>
<p><strong>Kamis, 21 Agustus</strong><br />
12.00 Papi bangun siang, Pak RT menceritakan biasanya pagi pagi rumah kami sudah terbuka tapi ini sampai siang masih tertutup. setelah mandi, papi pergi berbelanja bahan bangunan untuk membetulkan pipa lantai atas yang bocor. waktu gue pake mobil papi, di bangku belakang masih ada semen dan kapur yang baru dibeli Papi ini.</p>
<p>Pukul 14.00: Papi ke ATM ambil duit, kami menemukan sejumlah banyak uang yang Papi ambil dari ATM, buat apa ya? nobody knows. it turns out that uang itu berguna untuk tahlilan Papi keesokan harinya. sudah menjadi culture orang surabaya kalo santri-santri yang datang tahlilan dikasih &#8216;besek&#8217; dan amplopan uang ala kadarnya. kami rasa Papi memang tidak ingin merepotkan dengan menyiapkan duit itu.</p>
<p>Somewhere antara pukul 14.00 s/d 15.00: Serangan jantung pertama, Papi mulai merasakan nyeri di dada. Heart attack tidak seshocking yang gue kira, datengnya pelan pelan dan smooth. sakitnya pelan pelan terasa namun tidak akan pernah mereda. Papi sedang di ruangan kantornya, ketika serangan jantung datang sambil mengelus nyeri di dada tangan kanan Papi masih memegang rokok. setelah kita mendatangi ruangan kantornya, didapat 2 puntung rokok di asbak.</p>
<p>Papi kemudian turun ke mobil, meminum setengah gelas Aqua, dan mulai menyetir pulang sambil mengurut dada. Di mobil itu kami masih mendapati lagi setengah puntung djisamsoe. Dua hal yang Papi sangat senangi dalam hidup ini: Rokok dan Nyetir. dua hal yang masih dilakukan Papi hingga akhir hidupnya.</p>
<p>Between 15.00-16.00: Papi sampai ke rumah dan langsung telepon Mami, mengeluh dadanya sakit. saking buru burunya mobilnya pun ditaruh miring di depan rumah dalam keadaan tidak terkunci. Mami langsung minta tolong mas har, tetangga, untuk melihat kondisi Papi. Waktu Mas har datang kondisi rumah tertutup semua, tapi tidak terkunci. Papi masih membukakan pintu dan duduk di singgasananya. Mami teleponan sama mas har, minta anter Papi ke rumah sakit. tapi seperti biasa, Papi engga mau.</p>
<p>Mami panggil adiknya dan keponakan Papi untuk membantu. setelah itu Papi baru mau dibawa ke rumah sakit. fyi, Papi paling anti ketemu dokter. waktu itu untuk pertama kalinya dan terakhir kalinya Papi masuk rumah sakit. itupun Papi masih ngotot minta mas har jalan duluan mendaftar, biar Papi nyusul belakangan. mas har lalu bilang, kalau masuk ICU itu ngga ada daftar. langsung masuk.</p>
<p>Sepertinya Papi mengulur waktu untuk tidak ke rumah sakit. dalam penanganan serangan jantung, dokter berpacu dengan waktu. Papi seakan sengaja membuang the golden moment dimana kesempatan dokter untuk menyelamatkan hidupnya masih ada.</p>
<p>16.00: Setelah Papi mau berangkat ke rumah sakit, Mami langsung panik. langsung saat itu juga Mami ke cengkareng cari flight ke Surabaya go show. Gw dan anak anak yang lain dikabarin. Kita semua kaget karena Papi engga pernah punya riwayat sakit jantung.</p>
<p>19.00: Mami sampai di rumah sakit, Papi mengerang kesakitan namun masih sempat memberikan dompet, jam tangan dan cincinnya ke Mami. dibawah bantalnya Papi menaruh uang receh ribu ribuan. Setelah dokter menceritakan kondisi Papi, Mami ambruk. buat orang awam, apabila dalam skala satu sampai lima (paling gawat) Papi berada dalam kondisi TIGA. Gw dan anak anak Papi yang lain diminta pulang saat itu juga. Abang dapat tiket kereta tinggal satu satunya. tidak ada satupun calo Gambir yang stand by tiket saat itu. Gw, kakak dan adek memutuskan untuk berangkat first flight in the morning.</p>
<p>21.00: Gue melihat sosok Papi di lobby Plaza Senayan</p>
<p><strong>Jumat, 22 Agustus</strong><br />
1.00 a.m : Papi berulang kali melepas selang oksigen dari mulutnya, dan melepas selang infus yang tertancap di lengannya. Papi menyembunyikannya dibalik bantal seolah olah selangnya masih terpasang di tangannya dibawah bantal. Akhirnya suster memutuskan untuk mengikat tangan Papi di tempat tidur.</p>
<p>2.00 a.m : Papi gelisah sekali, dan marah marah sendiri. Banyak yang bilang disinilah Papi &#8216;dijemput&#8217; oleh Ibunya. Tapi suster tidak mau melepas ikatan tangan Papi.</p>
<p>4.00 a.m : Mami masih di rumah sakit, belum tidur dan belum mandi. Di RS tinggal ada Mami, Mas her, keponakan Papi yang baru sepuluh menit tertidur, dan Oom G, adik Mami. Mami berjalan kaki pulang kerumah untuk mandi. Rumah sakitnya memang dekat dengan rumah Papi. dirumah, Mami menemukan balsem dan minyak angin yang tutupnya terbuka di kamar. Dikamar mandi, ada bekas muntahan Papi yang tidak sempat dibersihkan saat mau berangkat ke RS.</p>
<p>5.00 a.m : Serangan jantung kedua. Dokter panik, suster heboh. Papi mendapatkan resusitasi dan dadanya disetrum. Mas her dibangunkan oleh suster dan masuk ke kamar Papi. Dokter sudah menggelengkan kepala. monitor detak jantung Papi flat sampai dengan beberapa menit. Kemudian berdetak lagi. Oom G lari kerumah menjemput Mami. tidak ada yang berani menceritakan ke Mami tentang kejadian barusan.</p>
<p>6.00 a.m : Kakak berangkat ke bandara, mencari tiket. tidak ada satupun tiket yang beredar. bahkan waiting list pun tidak dapat.</p>
<p>7.00 a.m : Abang sampai di Surabaya. langsung ke rumah sakit sampai jam 8 pagi. Dengan menahan sakit Papi menyapa Abang dengan ramah, dan masih bisa kontak bicara dengan Abang.</p>
<p>9.00 a.m : Papi panggil Abang, minta minum karena haus. diberi air putih tapi tetap haus. Abang dan mas her langsung membisikkan Papi Allahu Akbar dan kalimat syahadat. Papi mengaduh dan mengangguk, namun masih sempat membacanya.</p>
<p>10.00 a.m : Serangan jantung ketiga. angka OS menurun hingga hampir nol. tekanan darah turun hingga 60/40. monitor detak jantung berulang kali flat hingga beberapa menit. walau Papi masih bernafas, namun sudah tidak sadarkan diri.</p>
<p>12.00 : Anak mantu &amp; cucu Papi yang masih di Jakarta, terkumpul semua di Bandara, delapan orang. tersebar di masing masing loket maskapai penerbangan berharap mendapatkan jatah kursi waiting list, paling tidak satu lah. untuk bisa berangkat. karena kebetulan bertepatan dengan weekend terakhir sebelum puasa, banyak sekali orang &#8216;nyadran&#8217;, nyekar ke kampung, sehingga tiket pesawat sulit sekali didapat. kami semua panik, boro boro mikirin Jumatan&#8230;</p>
<p>12.30 : Tensi Papi turun sampai dengan 22. Kami dibandara dikabari, kakak tersenyum ke gue. sudah, Papi sudah ingin berangkat.</p>
<p>12.45 : Dokter memeriksa lagi, Papi sudah ngga ada. Seakan akan Papi menunggu selesai Jumatan baru &#8220;berangkat&#8221;. kami yang di bandara dikabari, kesedihan langsung melanda. Namun kami tidak sempat merasakannya, Garuda memanggil kami untuk berkumpul karena langsung 8 seat tersedia untuk kami di penerbangan jam 1. Gw dari terminal 1 lari masuk shuttle bus yang sangat pelaaaan sekali jalannya (pake ada bule ketinggalan tas lagi). Jam 1 para penumpang sudah diatas pesawat, kami masih lari lari. gw sama kakak tertahan di loket mengurus pembayaran tiket ngga selesai selesai. semua kartu kredit dan semua duit di ATM dikuras untuk membayar. Pak Pilot sampai menunggu 20 menit buat kami masuk pesawat.</p>
<p>Heran, sepertinya Papi tidak mau ditunggui anak cucunya. begitu papi &#8220;berangkat&#8221; langsung jalan ke Surabaya terbuka lebar.</p>
<p>14.30 : Kami sampai di Juanda. bagasi kami tinggal di angkasa pura. langsung masuk taksi.</p>
<p>15.00 : Kami sampai di rumah, Papi sudah mandi bersih dan dikafankan. Karena kami datang, kain kafan dibuka. Papi terlihat damai sekali, seperti tertidur nyenyak dengan bibir sedikit terbuka. Kumisnya dicukur halus, ternyata Papi mencukur kumis sendiri 2 hari yang lalu (ketika mengantar bude). Papi kelihatan &#8216;muda&#8217; dan &#8216;cakep&#8217; sekali, seperti umur 30 an.  Gw cium kening Papi, untuk terakhir kalinya <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>16.00 : Mami tak berhenti menangis, sebentar sebentar pingsan. kami, anak-anak dan para menantu, sibuk menenangkan beliau. sementara tamu datang tak henti henti ingin melayat. Gw baru sadar kalo belum sekalipun mengabari rekan rekan di Jakarta. Gue nyalain lagi handphone yang tadi dimatiin pas mau masuk pesawat. 90an new SMS masuk seketika. rupanya sang-boss-nan-cantik-jelita telah membawa kabar ke teman teman. Gue mulai broadcast SMS berita duka.</p>
<p>18.00 : Ba&#8217;da maghrib kami mulai tahlilan, le mafioso de surabaya dan para tetangga tetangga. Buat keluarga besar kerajaan kami di surabaya, Papi adalah figur seorang <em>Godfather</em>,  yang pertama menginjakkan kaki di Ibukota dan take care all of his family disana. Bagi korps dimana Papi bekerja, beliau adalah figur seorang anggota yang merangkak dari bawah, level tukang ketik, hingga menjadi pimpinan yang dikenal seringkali memperjuangkan kepentingan jawa timur di mata pemerintah pusat. Alhasil, malam itu banyak sekali manusia yang lek-lek&#8217;an, sebuah adat jawa I think, menunggu hingga larut malam.</p>
<p>21.00 : Kami mulai mempersiapkan kopi dibawah jenazah Papi, walaupun Papi tidak bau sama sekali. wajahnya tetap menguning dan cerah. Gw membaca yasin sekali lagi disamping Papi, dengan berulang kali menatapnya karena sumpah demi Allah, gue melihat Papi masih bernafas. ternyata halusinasi.. *tsk*</p>
<p>Malam itu, mami dan anak-anak tidur beralaskan tikar disamping Papi.</p>
<p>Sabtu, 23 Agustus<br />
06.00 : Gue udah bangun dari jam setengah lima, in fact gue ga bisa tidur karena belom pernah seumur umur tidur di tiker dengan kondisi pintu dibuka. yap! angin malam Surabaya engga mem-bobo-kan seperti di Malang atau di Bandung. kita semua harus segera bersiap karena prosesi akan dimulai jam tujuh. selesai mandi gue duduk lagi disamping Papi, membaca yasin untuk terakhir kali. kali ini tidak ada halusinasi Papi bernafas, namun bacaan yang sekarang rasanya lebih ringan. damai. perlahan rasa ikhlas muncul, kecil sekali tapi makin nyata. </p>
<p>07.00 : acara dimulai, prosesi keluarga dulu kita muter muter dibawah keranda. setelah itu prosesi korps papi, dan berangkatlah kita ke Malang, tempat peristirahatan terakhir Papi. beberapa saudara menyayangkan kenapa Papi tidak dimakamkan di makam Tembok, Surabaya, tempat pemakaman keluarga dan leluhur disana. namun kami masih ingat ketika beberapa tahun yang lalu Papi berkeras menginginkan untuk membeli sepetak makam disebelah makam kedua mertuanya di Sama&#8217;an, Malang. kami anak-anak waktu itu engga habis pikir kenapa Papi ingin tanah makam padahal di adat keluarga kami engga boleh membeli tanah makam. tapi memang sudah keinginan Papi, sehingga kami pun mengamini. kami hanya membujuk pihak keluarga besarnya agar menerima dengan ikhlas keinginan Papi tersebut. </p>
<p>08.00 : konvoi kendaraan meluncur mulus ke Malang. masih teringat ketika Papi pensiun dulu, dia mengantarkan seorang prominence jawa timur (almarhum) ke makam. Papi berucap kalau dia meninggal nanti, mana mungkin bisa pakai konvoi kendaraan seperti itu, mana ada yang ingat? paling cuman keluarga aja. post power syndrom memang menggerogoti Papi ketika itu. kini, iring iringan kendaraan itu lengkap dengan patwal segala, bahkan ada bis sumbangan dari tim lokal gue di Surabaya. </p>
<p>10.00 : Sesampainya di Malang, jenazah Papi dishalatkan sekali lagi di masjid dekat rumah Eyang Kakung. kemudian Papi dibawa ke makam. team lokal gue sudah mempersiapkan dua set tenda putih diatas makam. bebungaan bertaburan dimana mana. ketika Papi telah dikubur, taburan bunga-bunga sedap malam kesukaan Papi merata disekitar makam, seperti kita menginjak karpet yang tebal. Untuk terakhir kalinya gue berdoa, semoga Papi bahagia disana.<br />
 <br />
Selamat Jalan, yaa bani mustafa&#8230;</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/yummiepappie.wordpress.com/93/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/yummiepappie.wordpress.com/93/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yummiepappie.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yummiepappie.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yummiepappie.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yummiepappie.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yummiepappie.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yummiepappie.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yummiepappie.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yummiepappie.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yummiepappie.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yummiepappie.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yummiepappie.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yummiepappie.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yummiepappie.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yummiepappie.wordpress.com/93/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yummiepappie.wordpress.com&amp;blog=3095891&amp;post=93&amp;subd=yummiepappie&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yummiepappie.wordpress.com/2008/08/29/selamat-jalan-papi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/36b8842ba98ffe3010d5f7d803547352?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bubba</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yummiepappie.files.wordpress.com/2008/10/wdylsyf.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">papi</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
