Faithful Guy

Monday, 17 December 2007

“Hey! In love sama sapa sih?”
Gue selalu tersenyum senyum kalo ada yang nanyain ginian ke gue. Gue itung udah lebih dari sepuluh temen2 gue yang concern sekali ama gue dengan melempar pertanyaan yang sama, well, gak mirip mirip banget sih, tapi at least context-nya kayak gitu. Facebook emang media paling mudah untuk menebar gossip. Boss-ku nan cantik jelita sampai mengancam melaporkan kelakuan gue ke bini, walaupun cuma joking. Dan gue masih bertahan bahwa gue jatuh cinta ama ‘kerjaan’.
Emang beneran jatuh cinta boss?
Iye! pake nanya lagi… cuman gue gak berniat untuk menceritakan panjang lebar di posting ini. nanti aja di blog kita ya? hehehe, senyum senyum dia…
Gue mau menceritakan tentang seorang suami atau istri yang jatuh cinta lagi. bukan gue. sebut saja x. ah susah… ngga usah disebut aja deh. ntar banyak yang protes… sampai saat ini gue ‘baru’ punya kenalan 2 orang suami dan 2 orang istri yang jatuh cinta lagi setelah menikah. tentu saja bukan kepada pasangannya. mereka berada dalam ‘inner circle’ gue. artinya bukan temen jauh jauh amat. dari empat orang tersebut, baru satu yang akhirnya bercerai. yang lain masih punya keluarga yang utuh. ke empatnya bukan orang susah. perkawinan mereka lebih terlihat seperti di surga timbang di neraka. si suami-suami itu ngga ada tampang lelaki buaya darat. yang satu haji, yang satu lagi belum haji, tapi lebih sering shalat dibanding gue (walaupun lebih sering nyate juga sih, daripada gue). si istri-istri itu yang satu hajjah, yang satu lagi si tante flirty, duta besar kerajaan setan untuk manusia. seorang teman berusaha untuk membujuk tante flirty untuk menjadi seorang christian, namun pak pendeta melarangnya. sebagai muslim aja dia gak jelas gitu, ngapain diajak masuk kristen. hm, touche.
Kenapa sih mereka cheating on their partner? ini bukan pertanyaan gampang dan hingga kini otak gue yang sempit ini belum dapet jawabannya. On a way back from Bandung for several workshop days Dave told me everything he knows about marriage. For sure He had lots of experience in this matter, and sadly, he had lots of time to talk about it.Jadi teori singkatnya gini, don’t get married until you’re 35, unless you are a very faithful guy. Otherwise, you’ll jeopardize your family. kecuali elo benar benar orang yang beriman dan teguh memegang keimanan lo, jangan kawin sebelum umur tiga lima.

Apa umur 35 engga telat banget ya? Biasanya, umur-umur 25 manusia itu udah kebelet kawin. Bisa karena keluarga, atau bisa juga karena tuntutan hormon yg udah mendidih ngga karuan. daripada meletus jadi dosa kan? mending kawin sekalian. gitu alesannya. The problem with 25 years old itu adalah, you don’t know what you don’t know. kita sebagai manusia akan terlalu ignorance sama blind spot kita sendiri. rasanya semua sudah terlewati. segara asa telah terasakan. sudah tahu tahu benar tentang dunia: dunia katak dalam tempurung.

By the time you reach thirty, financially you are much more better than when you’re 25. you start to know what you didn’t know. you are getting more powerful daripada lima tahun yang lalu, walaupun sebenarnya itu juga tergantung garis telapak tangan masing masing. kemudian datanglah segala kemudahan, tentunya dengan power yang baru itu. kalo orang awam melihatnya sebagai ‘godaan’. hal hal yang sebelumnya sulit terwujud, kini terjadi dengan mudah. semudah membalikkan telapak tangan. thirties sounds nice huh? gitu kok banyak orang yang pengen balik jadi duapuluhan lagi… hihihi
Istriku dulu berteori, kalau masa mudanya nakal, setelah dewasa udah bosen, trus jadi orang baik baik. yes, dear… you’re pointing at the right dot. namun manusia tertentu benar benar mencari tantangan. kalo udah umur segini, mana lucu lagi mainan ganja? emang gue anak smp? dan tiba-lah ‘godaan’ itu. mungkin lo udah ngga lagi mainan ganja. tapi siapa tau kalo ada yang nawarin lo swinger. masa gak dijabanin. tempting, rite?
“I’ll devote my life entirely to my husband”, yes milove, I think you should. Gue juga akan menyerahkan seluruh isi jiwa dan raga gue ke komitmen yang udah gue ambil. Namun gue benar-benar ngga tau kalo ada yang namanya cinta sebelumnya, hingga cinta itu sendiri datang menemui gue. membawa dilema bersamanya. Well, you dont know what you dont know kan? bodohnya… eniwei, trus kenapa 35 pak? menurut teori pak dave sebenarnya ngga segitu sih. umur 35 biasanya manusia sudah mampu belajar mengontrol power yang dimilikinya itu. di umur 35 biasanya secara financial sudah powerful, skill-nya juga cukup serius untuk membina keluarga. eh, ini khusus buat orang orang yang non-faithful lho. si bejat dan si bitchy. menurut saya alex bisa jadi contoh kasus paling relevant.

Gue ga tau ini teori bener apa kaga, sepertinya belum ada institusi yang berani membuat jurnal tentang ini. Namun dalam hal faithful dan non-faithful tadi, gue perlu klarifikasi. faithful dalam hal apa? gue melihat tante flirty dan ibu hajjah jatuh ke dua golongan yang berbeda. satu hal yang pasti, keduanya menikah pada umur 26 tahun. ah sutrah lah, kalau menurut saya faithful itu dalam hal menutup mata dari kesempatan belajar mempergunakan power itu tadi. cuek aja, mau bisa kek engga kek pokoknya begini. mungkin kalo ada waktu nanti gue akan clarify lagi sama pak dave, disela sela cognag dan ciggar-nya yang ngga brenti brenti itu. doain dapet kesempatan ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: