my side of the story, Part 1

Thursday, 27 December 2007

Perkenankanlah aku memperkenalkan sebuah negeri, negeri di awan, tempat dimana aku tumbuh besar, ketika aku baru tumbuh jakun dan pecah pita suara. Di negeri ini matahari tidak pernah datang menyengat. bahkan sunset pun datang lebih awal, sekitar pukul empat sore. karena jam segitu sinar mentari sudah terhalang oleh gunung tertinggi ditatar sunda ini. hasilnya, setiap pagi kabut-pun setia mengunjungi negeri ini. dimana mana jalanan aspal selalu basah oleh embun. sungguh, seperti sebuah prototype nirwana yang ditawarkan dalam ukuran yang sangat sederhana.

Tidak pernah terpikir bagi seorang aku yang tumbuh besar ditengah hiruk pikuk kota metropolitan untuk dapat hidup di negeri itu. namun keinginan untuk tinggal di kaki gunung mengalahkan keinginan-ku untuk tetap tinggal di Jakarta. keinginan yang sama yang menarik narik lenganku masuk aquarius liat liat kaset, jalan jalan ke wijaya twenty-one liat bulu-bulu halus, dan keinginan yang sama pula yang memaksaku nonton RCTI dari sebuah decoder.
Ah, toko kaset di negeri ini juga oke, walaupun lagunya kebanyakan dalam bahasa sunda yang asing ditelinga saya. Bioskop-nya juga asik, walaupun cuma satu, tapi mudah dijangkau. yang dateng juga manis manis. segar lagh pokonya. kayak bayem. aku pun tidak lagi membutuhkan televisi untuk membuatku terhibur. jadi? apa gunanya dekoder?

Beda dengan Jakarta, di negeri itu aku masuk sekolah cukup pagi. pukul 06.15 Waktu Indonesia Barat. aku harus berangkat very early setiap hari agar tidak terlambat. sepanjang hidup, ya ini masa-masa paling nyebelin dimana setiap pagi aku harus menggigil kedinginan hanya demi membersihkan badan. sering terlintas dipikiranku, siapa sih orang yang iseng membuat jam masuk sekolah begitu paginya. seharusnya orang semacam ini dilaporkan kepada KOMNAS Anak. tapi waktu itu belum ada. gimana donk…

Suatu pagi, aku datang ke sekolah lebih pagi. iseng saja. bangunan sekolah itu tampak lebih indah di pagi hari, ketika embun masih bergelantungan dan kabut masih mengambang disela sela tiang-tiang ooverstecht. bangunan yang berusia ratusan tahun itu tampak lebih anggun apabila digelayuti oleh awan. bel sekolah masih tidak akan berbunyi hingga lima belas menit lagi, lebih baik aku bengong saja di pagar masuk. scene seperti ini sayang sekali kalau dilewatin. dan tiba-lah moment itu. sebuah long-chassis land cruiser berhenti di dekat pintu gerbang. menurunkan seorang (seekor?) bidadari. loh, masa iya sih, ada seorang (seekor?) angel ikut sekolah disini?

Aku menyikut teman disebelahku, “itu siapa?”. dia tersenyum… “nih nomer telefonnya, 131. cari tahu sendiri”. ah, aku paling gak bisa nih sama istilah ‘cari tahu sendiri’ gini. pun, aku hanya bisa mengagumi-nya berjalan masuk melewati pintu gerbang itu.

Keesokan harinya, terbersit keinginan untuk nongkrong lagi di pintu gerbang. asik kali yeee… tapi rupanya sudah terlambat. karena hingga bel masuk berbunyi, land cruiser itu tidak kunjung datang. ah, sutrahlah. waktu keluar main aku kelaparan. hm, gorengan di negeri ini memang tidak lebih baik dari sekolahku di Jakarta dulu. tapi apa daya, aku membelinya juga. wong laper. di jalan kembali ke kelas aku berpapasan dengan si bidadari kemarin. jantungku mendadak kabur entah kemana. kuberanikan diri untuk tersenyum. dan bidadarinya tersenyum balik saudara-saudara! ah senangnya.

Tidak banyak lagi yang kuingat, bagaimana kami berkenalan. aku dan si bidadari jadi berteman dekat. sangat dekat hingga kami selalu pulang bersama setiap hari. well, engga setiap hari juga kali ya, soalnya aku ingat sesekali aku pulang sendiri, namun ke-esokan harinya pasti kami pulang bareng lagi dan berbincang tentang kenapa kemarin pulang sendiri sendiri.
Jatuh Cinta, memang berjuta rasanya. feeling yang addictive, setiap kali dipuaskan selalu timbul rasa haus lagi. argh. logika selalu menghalang halangiku untuk menyatakan perasaan ini pada si bidadari. “Apa sih yang ingin kau buktikan?”, si logika menghardik sombong. “sudah lah, toh cintamu pasti ditolak”, imbuhnya, “dasar anak ingusan…”. kupingku memang panas, tapi tak sebersitpun timbul keberanianku untuk melawan logika.

Ternyata si logika ini memang benar, bajingan tengik yang selalu benar. tak berapa lama si bidadari ini memutuskan untuk sekolah di kota besar. well, diputuskan tepatnya. dan aku terjebak di negeri ini. tanpa teman lagi, tanpa masa depan (apa sih? hiperbola banget.. hihihi). hingga pada suatu bulan, masa bhakti papi berakhir di negeri ini. kami semua harus pulang. pulang ke kampung halaman, sebuah rawa becek di sudut kota Jakarta. satu persatu foto si bidadari kususun dalam sebuah album. sebagai kenangan masa terindah dari negeri di awan ini.

3 Responses to “my side of the story, Part 1”

  1. Yummy Daddy said

    argh… sekarang paragrafnya loncat loncat jauh sekali…

    Ampun Tuhannnnn

  2. whenwedance said

    aku nangis bacanya😦
    aku cinta padamu!!

  3. Selamat Datang... said

    perhatian: cerita ini hanyalah fiksi belaka, apabila terdapat kesamaan karakter dan alur cerita itu hanyalah kebetulan saja. hihihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: