Pak Tua

Tuesday, 15 January 2008

eh pada, tahukan ada, ada komikus lokal Indonesia yang bertaraf internasional?lihat nih

hehehe, lucu ya? duh si Oom, jam kerja ngabis ngabisin waktu buat blog walking aja. eh biarin, jaman kapitalis begini susah loh nyolong2 jam kerja. manajemen diseluruh dunia sudah kompakan untuk belajar bagaimana caranya mengurangi ketergantungan karyawan pada facebook, yahoo messenger, dan blogging. kecuali disini. mudah mudahan tidak kepikiran sama top manajemen saya. setidaknya sampai sepuluh tahun lagi.

Tadi malam saya berencana untuk membuat posting tentang pak tua yang sedang terbaring di rumah sakit punya pertamina (RSPP). setelah walking sana sini lho koq pada bikin postingan dengan topik yang sama ya? walah. apa ngga disangka copy paste? tapi karena niat sudah bulat, ya saya teruskan aja tulisan ini. pamali kalo nulis setengah setengah, nanti dimarah bu guru…

Foto pak tua di koran itu kelihatan nelangsa banget. sejajar dengan foto korban pembunuhan atau foto mayat copet yang ketangkep di terminal. gue yakin itu foto colongan. soalnya kalo engga pak tua itu pasti sempet dandan2 dulu. minimal bedakan lah. tapi gambar itu menunjukkan seseorang yang udah tidak berdaya. berbeda sekali dengan foto pak tua salaman di kamar kerja papi. waktu itu pak tua selalu tersenyum. senyum yang misterius. senyum yang paling ditakuti di seluruh dunia.

kini setelah senyum itu menghilang, bangsa ini terbelah. yang sebelah mendoakan agar pak tua sembuh, yang sebelah lagi mengumpat-ngumpat gak jelas. seakan akan kematian pak tua ngga cukup memuaskan nafsu birahinya. gue sendiri sih beraliran ‘pak tua-ist’ yang penuh doa, walaupun sepuluh tahun yang lalu gue juga termasuk orang orang yang menuntut pak tua turun dari singgasananya. iya lah, waktu itu gue mahasiswa tingkat akhir (tapi kaga lulus lulus), kurang setetes lagi dari sebutan kotoran rakyat, ikut turun ke jalan koar-koar demi melihat kekuasaan tumbang. sempet nginep di gedung mpr juga lho, dengan seorang pecun mahakam. gue berjaket biru, dia berjaket hijau. tapi sepertinya tidak relevan kalau dibahas disini.

waktu itu gue bukan berdendam ria dengan pak tua. tapi gue merasa ada yang salah dengan bangsa ini. lima-puluh tahun merdeka, kita baru punya dua pemimpin. that is called underexposed leadership. pantes aja kalo negeri ini tidak punya stock pemimpin yang beneran punya leadership. wong exposure-nya aja minim. itulah sebabnya bolak balik kita salah pilih leader, yang buta lah, yang bisu lah. argh. karenanya waktu itu gue berteriak lantang; “turun sekarang juga!”. ibarat seekor toddler, bangsa ini harus dilepas. tak peduli bahayanya. kalau tidak, sampai kapanpun kita tidak pernah bisa berjalan diatas kaki kita sendiri.

Sekarang banyak banget ‘wong cilik’ yang menyalahkan generasi kami menghentikan kekuasaan. “hidup sekarang lebih berat, lebih enak jamannya pak tua”, ungkap mereka. makin lama makin banyak orang yang mengeluh, enggak hanya para ‘wong cilik’ tapi juga penggede penggede. termasuk mertua gue. walah, kalo udah ngobrolin masalah pak tua, rasanya gue seperti diadili. “ini semua gara gara elo, tau!”, lho kok saya?

mereka engga bisa menghargai kemajuan pesat negeri ini sepuluh tahun terakhir. banyak banget yang bangsa ini dapet, lebih banyak dari sepuluh tahun sebelumnya. mereka jadi sama ble’e-nya dengan orang-orang yang saling mengumpat. memaki maki menuntut pak tua diadili, “semua pencuri harus dihukum!”. ah, absurd sekali. coba kita ingat-ingat, kapan terakhir kita harus bangun pagi, atau terjaga hingga larut malam, demi menyelesaikan pekerjaan kita. apapun pekerjaannya. ha? hampir setiap hari? bayangkan, pak tua harus tetap bekerja selama puluhan tahun. tiga puluh tahun terakhir malah bekerja tanpa iming iming promosi. naik grade, naik pangkat or whatsoever. ini namanya dedikasi sebenar benarnya dedikasi. katakanlah, beliau mencuri. seperti halnya kita mencuri waktu kerja untuk makan siang lebih lama, atau mengambil hak yang bukan milik kita. berapapun nilainya. besar atau kecil. pantaskah kita dihujat? dimaki?

Tidak! cukup dengan dihukum. tak pantas untuk digunjing, apalagi dituduh untuk hal hal yang sebenarnya tidak pernah dilakukan. Hukum memang harus ditegakkan. kejahatan memang harus diadili. diberi ganjaran setimpal. agar yang lain tidak ikutan mencuri. things have to be put in order. sadarlah wahai bangsa, untuk menegakkan keadilan saja kita tidak becus. yang politik lah disalahin, yang pak tua lah dituduh mangkir. sungguh otak yang korslet.

Pergilah pak tua. temukanlah kedamaian. disini bukan tempatmu. you deserve better than this…

3 Responses to “Pak Tua”

  1. stey said

    haha..ini jelas bukan kopi paste bos..btw,saya mah netral aja ttg bapak tua itu..kasian liat dia antara ada dan tiada gitu..huhu..

  2. eve said

    seenggaknya pak tua berhak sedikit apresiasi dengan apa yang sudah dilakukannya selama 32 tahun. Walopun dia juga pantas mendapat sedikit juga makian karena membuat bangsa ini akhirnya jadi pathing pecothot gini.

    its about balancing. Yin n Yang.

    Tapi daripada mumet mikirin orang yah bahkan udah ndak bisa mikir, lebih baik main congklak aja. Atau blogwalking. Atau ngerjain kerjaan. (perhatikan urutannya. itu prioritas!)

  3. Yummy Daddy said

    girls.. saya sedikit khawatir dengan waktu kerja yang kalian luangkan demi membaca-baca postingan ga penting seperti punya saya ini… please ensure that it is all right ya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: