Am I Gay?

Monday, 26 May 2008

teringat beberapa masa yang lalu, meluangkan waktu liburan buat jalan jalan ke sydney sama temen temen yang lain. kebetulan lagi ada festival mardi grass or whatever that is tempat pestanya para kaum homosexuals dari seantero negri. berkumpul menjadi satu. sungguh pemandangan yang kurang lazim buat para kaum hetero.

seumur umur, sangat sedikit sekali exposure gue sama this ‘other world’. dunia yang parallel sama kita, bahkan sebenarnya kita berbagi nafas namun tak terasa. tertelan oleh apatisnya komunitas. gue cuman sekali sharing rumah sama seorang gay, sekali nonton festivalnya mereka, dan sekali diajak malem mingguan di club exclusive-nya mereka. pendapat gue? homosexuals orangnya asik asik. lho koq?

iya, rasanya mereka adalah kaum yang hidup tanpa beban. selalu gembira. lepas. otaknya produktif sekali. engga judeg sama hidup, seperti mostly kaum hetero yang gue kenal. Tempat gue bekerja menganut agama yang luhur: equal opportunity. gue berbagi pekerjaan dengan expat expat gay dan kadang iri dengan kemampuan kerjanya. mereka punya intuisi seorang wanita, tapi dengan analytical skill sedahsyat laki laki. otak kiri dan otak kanannya well balanced. career competition sama mereka sangat sangat mengerikan buat gue.

being a gay itu ngga gampang lho, sebuah keputusan yang sangat sulit. dan melepas segala norma, melepas keinginan untuk memiliki anak, orang tua, keluarga, bahkan Tuhan sekalipun. bukan berarti gue berpendapat kalo gay itu atheis, no no no. cuman mereka sudah pasrah sama keadaan. seingat saya tidak ada satu agamapun di dunia ini yang mendukung homoseksual. Tuhan pun berpaling saat mereka menatap. apalagi orang tua? ehm, ada gitu orang tua yang bangga ya anaknya gay? jarang kayaknya ya? apalagi Tuhan? eh, apa sih mbulet.

Jo, sharemate gue waktu di Australia memutuskan untuk menjadi gay saat dia hidup mandiri disana, lepas dari orang tuanya, seorang wakil gubernur terpandang di Indonesia. setelah ‘menjalani hidup baru’ itu, ia seakan mendapatkan hidupnya yang hilang, jiwanya kembali bernafas. tanpa topeng, tanpa beban. hanya satu kata yang bisa mendeskripsikannya waktu itu: bahagia. hohoho, Jo yang gay adalah Jo yang bahagia.

maaf maaf kata kalo gue sampe salah bikin kesimpulan ye. buat gue, cuman ada satu alasan kenapa seseorang memutuskan untuk menjadi gay: memilih untuk hidup dengan cinta. daripada dipaksain hidup bermakna tapi tanpa cinta. wow! berat… dan biasanya sih, mereka engga mikirin lagi ‘the afterworld’. kumaha engke-lah, yang penting dunia selamet.

duh, bub. ngapain sih ngomongin ginian ??

gue cuman pengen sharing aja, my friends. bahwa sesungguhnya, gue menaruh emphaty sama mereka para homosexuals. percayalah, di lubuk hatiku yang paling dalam, gue adalah seorang lesbian. sebentuk jiwa merana yang terjebak dalam tubuh lelaki gendut bau ini. menunggu datangnya segenggam cinta seorang lesbian yang akan menyelamatkan jiwa.

10 Responses to “Am I Gay?”

  1. stey said

    They said, gay is a woman best friend..ga tau kenapa biarpun belon sampe punya temen yang gay, i believe that term..

  2. silly me said

    pada dasarnya, orang yang bahagia itu adalah orang yang bisa jujur pada dirinya sendiri.

  3. Silly said

    gue gay juga bub… sukanya sama lelaki doang…😀

  4. Eve said

    Pertama2 ijinkan saya dgn bAngGa mengatakan bhw saya isi koMen make hp

  5. eve said

    ih kok komen gue cuman segitu? Benci!

  6. eve said

    Gue juga suka bertanya2 tentang hal ini myself lho bo. Secara gitu ya, gue lebih enjoy liat foto2 bugil cewe daripada cowo. Gue lebih aroused melihat girl on girl adult movie daripada boy menunggangi on boy. Dan gue selalu menganggap bahwa tubuh wanita itu cantik. Berapa banyakpun fat body index yang mereka punya. Dan gue selalu adore women’s body.

    Astagah!!! Gue ga normal yah??!?!? *mulai khawatir*

  7. halfback said

    halfback says : I absolutely agree with this !

  8. ika said

    entah kenapa ngobrol sama gay itu asyik lo..orangnya terlihat bahagiaaa gitu…

  9. Rara said

    Wish there were more people with such tolerance and understanding as you (then the world would be a much better place, eh?). Yep, as they say: “Do not measure one’s goodness by who one excludes, but by who one includes and embraces.” “We have enough religions in the world to make us hate, but not enough to make us love one another.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: