empathy? binatang apa itu?

Monday, 16 June 2008

sampailah akhirnya keluarga kecil ini, Bubba, Bunga dan Bini reriungan dalam sebuah malam minggu yang panjang didepan dvd kesayangan Bunga, dan celotehannya meninabobokkan Bebe, bonekanya yang udah gundul. hmm, kenapa karakter yang gue bikin berawalan B semua ya? apakah karena kami semua bergolongan darah B? tapi Bebe kan gak punya darah? duh, penting gak sih? strahlah…

intinya, kami mereview hubungan kami berdua, mengevaluasi semuanya, setelah 13 taun bersama sama, dan 6 tahun sama sama menjalankan fungsi suami istri, dan 2 taun berperan menjadi orang tua. ada beberapa poin, dimana gue bisa berbangga hati bahwa kami berdua mencetak kemajuan berarti. dan ternyata masih ada beberapa poin dimana gue ataupun bini gue masih harus melakukan improvisasi.

DAN ADA SATU POIN, dimana gue tidak berkembang, malah kian mundur. a weakness point yang entah sampe kapan gue harus terus berusaha untuk merubahnya: empathy.

gue orangnya ngga seneng neko neko, yang lurus lurus aja deh. paling males gue kalo udah disuruh basa basi gak jelas gitu. cuman emang ga selamanya kita bisa punya ‘privilege’ menjadi diri kita sendiri, terutama kalo lo udah mulai bekerja, berumah tangga apalagi sampe punya anak. well, mungkin berbeza dengan kebiasaan lo lo pade, gue selalu pake topeng di tempat kerja, di rumah tangga, bahkan kadang didepan Bunga. bukan sesuatu yang membanggakan sih, lebih tepatnya adalah sesuatu yang menguras jiwa. masih untung hidupku masih panjang, masih banyak jiwa yang tersisa untuk dikuras.

tapi empathy kan bukan cuman basa basi bub? lo kan bisa jadi diri lo sendiri, tanpa kehilangan empathy?

nah, disitulah masalahnya. gue gak bisa. beneran deh gak bisa. untuk ber-empathy ke orang lain. recognize other’s feeling. apalagi understanding it. hua. dulu waktu masih sekolah, belom ada kebutuhan ini. gue ya gue, manusia tanpa ekspresi. heartless form of living creature. nah, sekarang kan gue gak bisa begitu lagi, ada boss yang harus gue ngertiin, ada keluarga bini gue yang harus gue serve, ada Bunga yang nangis nangis minta susu.

“apa sih susahnya ngertiin orang?”, Bini gue selalu encourage me to do so. “Pelan-pelan kamu pasti bisa”, oke siapa sih yang gak mau? gue mau berubah koq. tapi tiap kali review, tiap kali evaluasi, nilai gue disini selalu jeblog. bukannya gue gak gak mau ngertiin orang lain, gue gak bisa. kalo ada orang yang dateng curhat ama gue, apapun isinya, yang ada hati gue selalu menjerit lebih kenceng, “yak ampun, itu mah gak seberapa kalo dibanding masalah gue”. dan gue pun gak pernah curhat curhat gitu koq ke elo.

satu satunya tempat curhat gue adalah blog ini, dan blog yang satu lagi. walaupun disini gue menikmati anonymousity (is that a word?) gue sendiri dengan segala macem nicknamenya tetep aja gue gak bisa cerita semuanya.. mungkin gue harus bikin satu blog lagi dimana gue bisa bebas menceritakan siapa gue, tapi dikunci dan yang bisa baca cuman gue. lho apa gunanya gue posting tapi gak bisa dibaca orang? narsisme gue menggugat…

dan herannya, kenapa koq gue mengambil pekerjaan yang mengharuskan gue ber-empathy sama orang ya? ya abis gimana bok, jakarta hare gene, kalo gak mecun mana bisa idup? belasan kali gue mengikuti psycho test sebagai pra-syarat pelamaran kerja, dan semuanya gagal. gue, engga bisa menjalin relationship dengan benda hidup. so they said. dan akan lebih cepat berkembang kalo berhubungan dengan benda mati. ARGH! TIDAK!! gue bukan Sumanto!!! halah apa sih. dan fungsi pekerjaan gue sekarang adalah berhubungan dengan manusia. Surviving.

“Yang penting, adalah hubungan kamu sama Bunga”, kata Bini gue, “Kamu harus tetap menganggapnya sebagai manusia”. okay-okay! she’s my decendant and I will treat her like so. cuman masalahnya, gue gak punya referense to do so. kalo gue mencontoh the way papi sama mami treat gue dulu sama aja bunuh diri. mami lebih memperlakukan gue sperti koper daripada seperti anaknya. well, karena soalnya kami semua harus selalu berpindah pindah mengikuti tugas negara yang diselesaikan papi. mami sendiri, harus bekerja di 2 kantor untuk memberi makan kami kami ini yang makannya gak pernah sedikit.

papi? wah, yang satu itu lebih aneh lagi. waktu gue terjerumus narkotika, membawa serta adek gue semata wayang. papi bukannya membawa kami ke RSKO, malah dateng ke dukun. sebuah orang pinter hitam berjanggut putih di pelosok bandung. mungkin pikirnya, kalo buat karirnya aja tokcer masa buat anaknya engga manjur. intinya adalah, kalau ada apa apa, apapun bentuknya, papi sama mami tidak pernah mengkonfrontir (again, is that a word?) langsung sama anak-anaknya. alhasil, gue sebagai si anak tidak pernah belajar untuk konfrontasi dengan manusia lain. hm, enuff with this freakin parents blaming deh. buat gue ngga ada yang salah dan ga ada yang harus disalahin. they had to do what they have to do. and I’m proud of them.

eniwei, gue keeps getting these complaints about my empathy inavailability and it gets annoying. pilihannya, gue bisa, either shout my ears down, or bravely changed. hm, mungkin nunggu obama menang dulu deh, baru changed🙂

14 Responses to “empathy? binatang apa itu?”

  1. Silly said

    Ahhh, elo sahabat yang baik kok bub… sapa yg bilang gitu… sapa???… sini gue hajar… hahahha

    silly

  2. eve said

    so far, gue enjoy curhat ama elo bub. Justru menurut gue, elo orang yang paling mengerti. at least kalopun lo pura2, ya brati you’re a goddamn good actor. Atau justru karena ke-tidak-empati-an lo itu makanya gue enjoy curhat ama elo. I just need someone being all ears. toh, gue juga ga kepengen dikasianin kok. Dan kalo gue curhat hati berdarah2 ama elo, lo kaya bisa membantu “membangunkan” logika gue yang lagi tidur.

  3. bubba said

    itulah yang gue complaining about, eve. logika gue itu kadang brutally blunt sehingga banyak orang yang ngga seneng😦

    dan gue sekarang berada dalam posisi dimana gue gak bisa lagi ignoring other people’s feeling gitu deh. ksian ye

  4. silly me said

    dasar si muka tembok🙂

  5. bubba said

    tapi kamu suka kan😀

  6. dwi said

    hehe.. bingung mo komentar apa. gw nggak kenal ma loe. yang pasti tiap indivu adalah unik sifatnya. jadi orang yang daya empati-nya rendah (mungkin seperti loe) ya,.. nggak papa. nobody perfect lah… kecuali gue. gue yang perfectly imperfect😛

    tapi seneng ikut baca baca blog loe pak. gue link ya….

  7. bubba said

    dengan senang hati dwi
    😀

  8. arida said

    Gw kayaknya kenal dgn bapak ini deh. Malem2 begini, knapa bisa nyasar ke blog ini ya? Tadinya mau baca blog yg lain. Tapi Lucu, honest… Emang kadang muka tembok… Tapi kalo emang bener bpk itu, kyknya anak lebih dari 2, umur di atas 40… (Ketahuan deh). Gaya bhs & pengetahuannya ngga bisa bohong, campur2 dari jawa, cina, sunda, belanda, etc, pokoknya gado2 (= kaya pengalaman, mksdnya).

  9. arida said

    Sorry, Bub…
    Tadi malem belum bener-bener baca, baru 1-2 udah berani bilang lucu & honest. Ternyata (agak) salah… Ngga semua… Ada bagian yang sebetulnya ngga perlu ditampilkan, karna malah merusak. Misal segala macem toilet & budel itu. Orang juga dah sering dapet mail begituan n langsung dibuang. Cerita pengalaman aja udah lebih dari cukup.
    Thanks ya…

  10. bubba said

    kayaknya gue juga kenal sama bapak yang itu deh, botak manis berkacamata kan?🙂 salam ya kalo ketemu.

    tentang toilet dan budel, gue justru mempostingnya karena semua orang gak mau memasang dalam blognya dengan alasan merusak citra. nah, karena kasian jadi gue muat fotonya itu, biar ikutan ngetop.🙂

    eniwei, disini adalah kumpulan cerita yang sedih sedih, kalo nyari yang lucu lucu di blog yang satu lagi. oke?

  11. caroline said

    kadang perempuan butuh lelaki bermuka tembok buat ngedengerin curhat2nya tanpa berkomentar ato kasi solusi, secara para pere lebih seneng didengerin dan bukan dikomentari… tapi kadang pere juga perlu pria yang memiliki empati buat bisa memahami dirinya dan semua keinginan2nya… kenapa jadi ribet yak komennya? hihihi…

  12. bubba said

    soalnya kadang begini kadang begitu, ya toh?😀

  13. tere616 said

    Bubba …
    Barusan iseng-iseng ngeklik site yang ini, eh baca tulisan soal empathy trus liat tanggalnya, ya ampun … pas tanggal ulang tahun aku tuh.

    Balik ke soal empathy, walaupun psikotest bilang, aku punya interpersonal skill yang baik, alias mampu bekerjasama dengan benda hidup, tapi nyatanya ketika hari ulang tahun tiba, trus semua orang tepuk-tepuk tangan, nyelametin, hal-hal seperti itu yg paling dibenci, karena harus hahahehe, senyum kiri-kanan, kemana-mana.

    Padhal yang paling diinginkan di tanggal itu, berada di sekelompok kecil orang yang dikenal, yang membuat hidupku nyaman.

    Jadi balik ke empathy, tanpa kita sadari kita sudah melakukannya koq, dan jika ingin melakukannya dalam keadaan sadar, meminjam kalimat istri tercinta bubba, “kamu pasti bisa koq, pelan-pelan”

    *Sudah ah, mau ngecek rebusan hati sapi dulu*

  14. therry said

    Mungkin karena elo ngerasa elo nggak pernah dimengerti sama orang ngkali, jadi ngga mau juga ngertiin orang laen? Heheh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: