discipline

Thursday, 8 October 2009

Gue tertarik sama sebuah statement yang muncul dari seorang rektor universitas terbaik di negri ini.

“Pendidikan di Indonesia perlu menerapkan dasar dasar kedisiplinan bagi generasi muda. Pintar tapi tidak disiplin akan berbahaya bagi bangsa”

hm, mungkin beliau tidak merefer pada para personil Slank yang punya banyak kontribusi bagi negeri ini. mungkin beliau merujuk pada segelintir teroris dari Indonesia yang pintar-pintar, tapi punya pemikiran yang nyeleneh nggak karuan. atau oknum oknum militer yang justru lebih berbahaya daripada para kriminal yang mendekam di penjara penjara polsek tanah air.

kalo kata wiki, kata “discipline” itu berarti “systematic instruction given to a disciple/follower”. nurut! nggak nambeng/keras kepala. kita boleh menyuarakan kata hati, boleh saja berbeda pendapat, boleh mbeling. tapi tetap harus menurut sama order-order yang menjadi porsi kita. kenapa? karena itulah yang membedakan kita dengan orang-orang yang failure. gagal. sampah masyarakat. the time you breach an order, thats the time you become a scum.

alm Papi mewariskan dua nasehat ke gue. mungkin ke sodara gue yang lain beliau mewariskan banyak sekali life guidance, tapi ke gue –sejauh yang gue inget– selama 32 tahun irisan waktu diantara kami berdua, beliau hanya memberikan dua nasehat yang gue tetep jalanin sampai detik ini, until the day I die;

  • bekerjalah sebaik baiknya.
    maksud beliau adalah bekerjalah dengan disiplin. ketekunan dan kedisiplinan adalah kunci dasar beliau melaju ke jenjang tertinggi diorganisasinya. bukan pintar, bukan hasil lobby, bukan karena harta. justru sebaliknya- kepintaran, pangkat, jabatan dan harta akan datang mengikuti hasil tekun dan disiplin. pun demikian dengan integritas, dan gangguan terhadap integritas tentunya. in the end of the day, ketika seorang raja ingin mencari orang untuk posisi perdana menteri, bukan lagi skill para kandidat yang dipertimbangkan. namun core competency dan prestasi yang telah dihasilkannya.
  • jangan pernah mencari-cari alasan pembenar.
    di lain kesempatan Papi pernah menasehati (tentunya gue refleks menutup kuping donk!) ketika kita menerjang batas kedisiplinan, breaching the code of conduct, adalah mudah bagi kita untuk mencari-cari alasan pembenar. tapi yang membedakan antara sukses dan gagal adalah kesuksesan mengambil jalan yang lebih sulit: mengakui bahwa perbuatan kita salah, dan belajar dari kesalahan tersebut.

kita bisa saja bekerja untuk bangsa, atau bekerja buat orang lain, atau bekerja sendiri. tetaplah disiplin dibutuhkan buat hidup kita. ada sih yang lebay kayak tentara, atau yang rada cuek kayak gaya rocker. tapi tetap tanpa kedisiplinan, objective yang kita tentukan akan terasa lebih jauh daripada sesungguhnya.

gue baru aja mendapatkan indisciplinary action dari organisasi gw. dan gue sedang belajar dari kesalahan.

wassalam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: